Kalau aku menjadi tembok berwarna biru ini, mungkin aku akan protes kepada orang yang memukulku. Kalau diberi perasaan dendam, akan kubalas orang yang memukulku sampai aku terpecah menjadi bongkahan kecil. Apa salahku? Apa aku membuatnya terluka? Kan tidak! Begitu manusia, selalu mencari pelampiasan salah bukan pada tempatnya.
Tapi kita sama sama sakit. Aku terpecah dan si manusia terluka di tangannya. Walaupun hanya sedikit darah. Tapi apakah aku senang? Tidak! Justru si manusia yang terpuaskan karena adanya aku. Untung saja aku kuat. Kalau aku tidak kuat, mungkin aku sudah di hancurkannya bersama teman-teman tembok yang lain disini. Mau jadi apa kami? :’(
Kadang kami berpikir(kalau kami punya otak) kenapa harus kaum kami yang menjadi pelampiasan. Apakah karena kami selalu ada didekat meraka? Apakah karena kita diam? Apakah karena kita tak punya hati? Kenapa manusia menjadikan kami pelampiasan. Terkadang kami juga ingin memberontak. Mencari keadilan. Dasar manusia, selalu mencari-cari kepuasan!
Kamis, 23 Januari 2014
Selasa, 21 Januari 2014
Menenun Rindu Masa Kecil
- Tibatiba aku rindu masa kecil. Rindu bermain-main di komplek aspol pathuk ngampilan. Aku rindu temanteman mainku di kompleks. Rindu mencium aroma bakpia pathuk setiap hari.(Foto masa kecil)Aku anak pertama dari dua bersaudara yang (terkadang) akur. Annisa Fathona Tunnisa' dan Annita Fadhilatur Rizqi. Kata bapak ibuk, namaku diberikan oleh seorang kiai dari pondok pesantren di Mlangi Gamping yang sekarang sudah meninggal.
Aku terlahir dengan mata sipit, pipi chubby, dan kulit super putih. Sama sekali enggak mirip orangtua. Aku paling suka bergaya didepan kamera karena bapak sejak dulu suka mengabadikan setiap momentku. Bakat narsisku sudah terlatih sejak kecil.
Dulu, aku tinggal di aspol pathuk ngampilan. Kompleks yang berada di sentra industri makanan khas jogja, bakpia. Sebuah rumah kecil dengan dua kamar tanpa halaman rumah. Pemukiman padat merayap dengan tetangga yang ramah.
Aku tinggal bersama bapak, ibuk, dan mba sepupu yang sedang menyelesaikan sekolah (kalau tidak salah) di SMK 1 Yogyakarta. Teman-teman main dikompleks aku udah lupa namanya, tapi aku masih ingat dimana dia tinggal. Aku cuma ingat ical, teman mainku dulu. Rumahnya tepat didepan rumahku.
Hal yang paling kurindukan waktu kecil adalah bermain telepon umum. Kita sering menelpon siapapun hanya dengan memasukkan koin seratus rupiah. Tapi karena waktu itu aku bandel, telepon umum tersebut ku pukul-pukul sampai koinnya keluar lagi. Kuulangi lagi sampai aku bosan bermain-main.
Setiap hari setelah solat maghrib, orangtua selalu mengajakku ke ramai mall. Waktu itu terlihat megah sekali. Aku selalu suka membeli gaun-gaun lucu tapi nggak pernah diizinkan untuk membelinya. Kalau di ramai mall, aku paling takut kalau naik eskalator. Aku takut ketinggian.
Akses dari rumah ke ramai mall hanya perlu jalan kaki sekitar 10 menit saja. Dulu kalau mau ke malioboro atau beli apa saja di area malioboro dan jl. K.H. Ahmad Dahlan, hanya dengan jalan. Maksimal naik becak. Akses mudah dan murah.
Saat aku berumur (kurang lebih) tiga tahun, aku dibelikan sepeda sama ibu. Toko sepedanya ada di JL. K.H Ahmad Dahlan(sekarang masih ada). Dulu harga sepeda hanya 99.000 ribu rupiah. Aku memilih wim cicle warna ungu. Sepeda itupun sampai sekarang juga masih. Itu sepeda pertama yang aku miliki.
Dulu aku sering main dirumahnya Bu tin. Dia seorang perias. Aku dulu saking manjanya pernah minta lampu hias yang ada dirumahnya. Lampuya lucu, kalau dipegang di badan lampu bisa menyala sendiri. Aku sering sekali diberi uang sama Bu Tin waktu aku main kesana. Setelah aku besar, aku baru tau kalau ternyata bu tin itu perias di kraton. Aku tau setelah ibu memberi tau saat putri sultan menikah. Ooh, itu bu tin? (Manggut-manggut)
Aku tinggal di aspol pathuk sampai tahun 1998. Ketika terjadi kerusuhan rezim orde baru, aku pun masih disana. Setelah kerusuhan mereda, bapak ibuk memutuskan pindah dan membangun rumah yang kutempati sekarang.
Saat membangun rumah yang kutempati ini, aku jarang tinggal dengan orangtuaku. Aku lebih lengket dengan oomku, oom laily dan oom wit. Tapi oom wit ternyata sudah dipanggil oleh allah terlebih dahulu. Oom laily dan simbah yang selalu menemaniku karena orang tuaku sibuk dengan pembangunan rumah. Sampai sekarang aku selalu lengket sama oom dan simbah.
Aku selalu merindukan masa kecilku. Bermain main bebas tanpa beban. Hal baru yang aku temukan saat aku pindah rumah adalah sawah dan sungai. Aku nggak pernah bermain disana sewaktu masih tinggal di komplek. Tapi sekalinya bermain disawah atau sungai, pulang pasti sudah dengan kulit babak belur dihajar nyamuk. Tapi seru. Aku nggak pernah menyesali masa kecil di dua dunia yang indah. Semuanya menyenangkan. Aku rindu masamasa itu.
Bersama oom :)

Bersama Mbah Kung :)
Minggu, 12 Januari 2014
Loro
ketika aku tersakiti, aku cuma bisa diam dan menangis
ketika semua kesakitan harus diungkapkan, mulut ini terasa bisu sesaat
aku bingung
kalau saja ada obrolan dua arah
pasti tak seperti ini
marah . . .
marah . . .
marahlah . . .
kalau kita marah bersama-sama, akan lebih lega setelahnya
kamu terlalu tega membuat aku jadi sedih
ketika semua kesakitan harus diungkapkan, mulut ini terasa bisu sesaat
aku bingung
kalau saja ada obrolan dua arah
pasti tak seperti ini
marah . . .
marah . . .
marahlah . . .
kalau kita marah bersama-sama, akan lebih lega setelahnya
kamu terlalu tega membuat aku jadi sedih
Senin, 06 Januari 2014
Oleh-oleh senja kedua tahun baru
Oleh-oleh dari nyenja di amplas.
dasar warna baju kita sama lho. sumpah ini nggak disengaja.
Akhirnya kita punya foto bareng juga hahaahaaa~
Lima bulan nggak ketemu, hanya ini yang dirindukan :)
Natural :)
Day Last
hari terakhir mengantarkanmu kembali ketanah rantau :'(
kamu hatihati yaa :') jaga diri baikbaik. semoga setelah kita bertemu, semakin berkah dan semakin semangat untuk bekerja lagi :)
miss you
Langganan:
Postingan (Atom)





