Menyelesaikan sekolah menengah di SMA N 1
Depok a.k.a BBC dan menduduki kelas terbaik (katanya). SMA yang masih cupu dan
polos. Karena berada di kelas unggulan, aku mau nggak mau mengikuti habbit
mereka yang gapernah nyontek. Aku bener-bener jadi anak baikbaik saat SMA.
Menginjak kelas 2 dan tiga, karena berada dikelas IPA terbaik, aku jadi
ikutikutan (sok) baik. Aku rajin solat dhuha, rajin solat dhuhur tepat waktu
adzan, gak pernah nyontek, dan rajin belajar. Itu semua kulakukan demi mengejar
ketertinggalan mereka yang larinya secepat jaguar.
Di kelas, aku dekat dengan
semuanya. Aku nggak pernah menilai mereka dari segi manapun. Aku suka bergaul
dengan siapa saja kecuali mereka yang dapat berpengaruh buruk terhadap hidupku.
Aku suka teman temanku karena mereka saling support.
Saat kelas X, aku berada di kelas B. kelas
kedua terbaik. Kelas ini diurutkan berdasarkan nilai dan kepemilikan agama,
agak aneh sih, tapi yaudahlah. Di kelas X aku selalu sama shinta. Dia teman
terbaik yang pernah aku miliki. Walaupun agak oneng begitu, dia baik banget
lho.
Masuk kelas XI, aku nggak pernah menduga
kalau aku masuk IPA1. IPA terbaik dimana anak yang berada disana adalah anak
dengan nilai akademis terbaik. Aku nggak pernah berharap berada disana.
Sungguh! Dan di kelas XI, aku kembali bersama Shinta, yaaah apamau dikata.
Berada dikelas terbaik, bukan berarti aku
seketika bangga terus. Aku harus ekstra sabar menghadapi kecerdasan
teman-temanku yang sudah melintang di dunia olimpiade. Akhirnya dari 34 anak
dikelasku, 24nya mengikuti seleksi olimpiade kabupaten lho, aku termasuk
didalamnya. Aku mengikuti olimpiade IT. Aku selalu
gagal diseleksi terakhir olimpiade matematika, makanya guru matematikaku
merekomendasikan aku di olimpiade IT. Dan ternyata logika berfikirku ada
disana.
Di pergantian antara kelas XI ke XII ,
kelasku kembali mencetak prestasi. Dhanu Ratman Saputra, temenku yang paling
absurd itu lolos jadi paskibraka nasional mewakili Yogyakarta bersama titis
wardiyani dari SMK 2 Kasihan . Betapa bangganya kami padanya. Seorang dhanu
yang soksokan mahomahoan dikelas, ternyata ooh ternyata. Bangga!
Menginjak kelas XII, aku harus
ekstra belajar. Sekolah-les disekolah-bimbel. Super sibuk. Demi teknik geologi
yang kukejar di UGM, aku suka teknik. Semenjak kelas XII aku sudah bertekat
akan menjadi anak yang kuat dengan
kuliah di teknik, aku harus bisa!
UGM teknik geologi dan geofisika
gagal. UPN perminyakan dan pertambangan gagal. Yasudah, mimpiku ke pertamina
harus digagalkan sebentar. Kembali ke realistis sebentar deh.
Foto ini diambil ketika kami mengantarkan teman terbaik kami, Dhanu untuk berangkat ke Jakarta guna mengikuti pelatihan khusus untuk Paskibraka Nasional. Dhanu menjadi satu-satunya wakil utama dari Yogyakarta yang diamanatkan untuk mengikuti Paskibraka di pasukan 45 (kalau aku tidak lupa).